Sosok Susuk Tunggal Pembuat Batu Sakral yang Dimanfaatkan Prabu Siliwangi : Okezone Nasional

  • 9 months ago
  • 1


KERAJAAN Pajajaran menjadi salah satu kerajaan besar di Jawa bagian barat dengan Prabu Siliwangi yang, termahsyur. Konon kerajaan ini memiliki wilayah kekuasaan luas di Pulau Jawa bagian barat dan memiliki batu sakral yang menandai kekuasaan raja.

Batu itu konon dibuat oleh Susuk Tunggal. Batu yang dinamakan palangka atau istilahnya singgasana juga digunakan tempat duduk Sri Baduga Maharaja yang konon identik dengan Prabu Siliwangi.

Palangka itu khusus untuk keperluan upacara penobatan raja di Pakuan. Sekarang singgasana itu disebut watu gigilang (batu yang gemerlapan). Konon batu itulah yang sempat diangkut oleh Banten ketika penyerangan ke Pajajaran pada tahun 1579.

Saleh Danasasmita pada buku “Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi”, mengisahkan bagaimana batu sakral yang diangkut itu membuat Kerajaan Pajajaran secara tradisi tidak bisa dilakukan penobatan raja baru. Keraton Sang Bima tempat Siliwangi tinggal dan memerintah sama dengan Sri Bima.

Di situ dijelaskan bagaimana Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi menerima warisan Kerajaan Pajajaran dari Susuk Tunggal. Sedangkan dalam Purwaka Caruban disebutkan bahwa Susuk Tunggal adalah putera Wastu Kancana.

Hanya saja antara Susuktunggal dan Anggalarang terselang oleh raja-raja seperti Banyaklarang-Banyak Wangi-Munding Kawati. Di Purwaka Caruban yang ditulis pada 172 pun terkena penyakit babad umumnya. Misalnya, dari Wastu Kancana ke Maharaja Adimulya hanya terhalang oleh empat raja.

Baca Juga: AkzoNobel Decorative Paints Indonesia Gelar Mudik Gratis Bagi 500 Mitra Dulux Terpilih


Follow Berita Okezone di Google News

Padahal Maharaja Adimulya adalah tokoh yang dalam Carita Parahiyangan disebut sebagai Tamperan alias Rakeyan Panaraban, putera Sanjaya.

Menurut Poerbatjaraka, Rakeyan Panaraban sama dengan tokoh Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dalam Prasasti Raja Balitung (907), masa hidupnya pada abad ke-8, sedangkan masa hidup Wastu Kancana pada abad ke-15, selisih tujuh abad atau tujuh ratusan tahun. Tentu saja sangat tak masuk akal jika selisih waktu tujuh abad hanya terisi oleh empat orang raja.

Susuk Tunggal memang putera Wastu Kancana. Bisa jadi ia adalah putera sulung yang dijadikan raja di Pakuan. Ini adalah raja daerah, sehingga tidak meneruskan memegang keprabuan. Karena itu, ia tidak bisa dimasukkan ke dalam silsilah khusus Susuhunan Sunda.

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.




Source link

Join The Discussion

Compare listings

Compare
WeCreativez WhatsApp Support
Coba tanyakan disini
👋Halo, apa yang bisa kami bantu