PENYEBAB utama tim kuat rontok di fase grup Piala Dunia 2022, menarik untuk diulas. Piala Dunia 2022 berlangsung sengit dan tak terduga, hingga memakan korban tim-tim kuat yang harus berguguran di fase grup Piala Dunia 2022.
Catatan kecil itu, mendapat sorotan dari pengamat sepakbola Gita Suwondo. Mulanya, tak sedikit yang memprediksi tim-tim kuat anti rontok di fase grup.
Kalaupun gugur, paling setelah bertempur di fase knock out atau 16 besar. Akan tetapi, beberapa tim kuat atau unggulan, justru rontok sejak fase grup.
Ambil contoh dua negara Eropa, yang menduduki ranking FIFA tinggi, yaitu Timnas Belgia yang ada di posisi kedua dan Jerman, yang nangkring di posisi ke-11 ranking FIFA. Kedua negara itu gagal melangkah ke babak 16 besar.
Belgia, angkat koper dari Qatar setelah gagal menempati peringkat dua teratas Grup F. Sedangkan Jerman, hanya finis ketiga di Grup E, di bawah Jepang (posisi pertama) dan Spanyol (posisi kedua).
BACA JUGA:Daftar 16 Negara yang Gagal Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2022: Belgia dan Jerman Jadi Korban!
Catatan itu memantik perhatian publik, tak terkecuali Gita Suwondo. Menurut Gita, kejadian itu sangat lumrah terjadi di dunia sepakbola. Torehan tak terduga jadi hal yang bikin menarik persaingan Piala Dunia.
Namun, ia memiliki pandangan jika gagalnya dua negara kuat itu dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya faktor ketidakpercayaan pelatih memainkan pemain muda di barisan utama tim.
“Kalau Belgia sih jelas, tim ini gontok-gontok internalnya sangat tinggi. Pemain saling menyalahkan, pemain mereka hanya yang tua-tua aja. Roberto Martinez dan Thierry Henry bukan sosok pelatih yang berani mencoba pemain muda. Padahal mereka punya Leandro Trossard yang sukses bersama Brighton,” ucap Gita Suwondo dalam progam Spesical Dialogue Okezone, dikutip Senin (5/12/2022).
Selain itu, ia juga menandai bahwa Belgia tak berani melakukan rotasi pemain. Ia menyoroti bagaimana dua pemain kawakan seperti Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld masih ada dalam skuad inti Belgia.