Penyebab Utama Tim Kuat Rontok di Fase Grup Piala Dunia 2022 : Okezone Bola

  • 3 years ago
  • 1


PENYEBAB utama tim kuat rontok di fase grup Piala Dunia 2022, menarik untuk diulas. Piala Dunia 2022 berlangsung sengit dan tak terduga, hingga memakan korban tim-tim kuat yang harus berguguran di fase grup Piala Dunia 2022.

Catatan kecil itu, mendapat sorotan dari pengamat sepakbola Gita Suwondo. Mulanya, tak sedikit yang memprediksi tim-tim kuat anti rontok di fase grup.



Belgia

Kalaupun gugur, paling setelah bertempur di fase knock out atau 16 besar. Akan tetapi, beberapa tim kuat atau unggulan, justru rontok sejak fase grup.

Ambil contoh dua negara Eropa, yang menduduki ranking FIFA tinggi, yaitu Timnas Belgia yang ada di posisi kedua dan Jerman, yang nangkring di posisi ke-11 ranking FIFA. Kedua negara itu gagal melangkah ke babak 16 besar.

Belgia, angkat koper dari Qatar setelah gagal menempati peringkat dua teratas Grup F. Sedangkan Jerman, hanya finis ketiga di Grup E, di bawah Jepang (posisi pertama) dan Spanyol (posisi kedua).

BACA JUGA:Daftar 16 Negara yang Gagal Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2022: Belgia dan Jerman Jadi Korban! 

Catatan itu memantik perhatian publik, tak terkecuali Gita Suwondo. Menurut Gita, kejadian itu sangat lumrah terjadi di dunia sepakbola. Torehan tak terduga jadi hal yang bikin menarik persaingan Piala Dunia.

Namun, ia memiliki pandangan jika gagalnya dua negara kuat itu dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya faktor ketidakpercayaan pelatih memainkan pemain muda di barisan utama tim.

“Kalau Belgia sih jelas, tim ini gontok-gontok internalnya sangat tinggi. Pemain saling menyalahkan, pemain mereka hanya yang tua-tua aja. Roberto Martinez dan Thierry Henry bukan sosok pelatih yang berani mencoba pemain muda. Padahal mereka punya Leandro Trossard yang sukses bersama Brighton,” ucap Gita Suwondo dalam progam Spesical Dialogue Okezone, dikutip Senin (5/12/2022).

Selain itu, ia juga menandai bahwa Belgia tak berani melakukan rotasi pemain. Ia menyoroti bagaimana dua pemain kawakan seperti Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld masih ada dalam skuad inti Belgia.

“Kemudian lini belakang mereka, masih aja mainin Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld, dua pemain yang bermain di kampungnya sendiri (klub). Itu artinya kan pemain yang kembali ke kampungnya sendiri prestasinya turun,” timpalnya.

Jerman

“Padahal mereka punya Tielemans, juga tidak banyak digunakan. Artinya banyak pemain muda yang bakatnya bagus tapi tidak berani dipasang Roberto Martinez sejak awal. Itu saya pikir kenapa Belgia sampai gagal,” cuapnya.

Tak jauh berbeda, ia juga menyoroti kinerja Hansi Flick sebagai juru taktik Timnas Jerman. Menurutnya, Jerman tahun ini benar-benar masih meraba kekuatan baru, setelah gagal di Piala Dunia 2018 dan Piala Eropa 2020.

Selain itu, keberadaan Thomas Muller di tim utama cukup dipertanyakan. Padahal, Der Panzer (julukan Jerman) punya segudang pemain muda yang tampil ciamik di Piala Dunia 2022.

“Kalau Jerman lebih coba membangun kembali setelah mereka menjadi juara di 2014, Semifinal Piala Eropa 2016. Mereka kan sempat gagal di Rusia (Piala Dunia 2018), mereka gagal juga di Piala Eropa 2020,” ucap Gita.

“Selain itu, Thomas Muller juga sudah menurun penampilannya, sayang Leroy Sane nggak cepat dipasang. Hansi Flick juga nggak berani pasang Niclas Fullkrug sejak awal, sedangkan Fullkrug itu kan sekarang bikin 16 gol,” timpalnya.

Ia pun cukup menyayangkan Jerman tersisih lebih awal. Selain itu, Gita melihat keberadaan pemain posisi 9 Jerman di masa mendatang jadi pekerjaan rumah utama Der Panzer agar bisa kembali ke persaingan.

“Apapun itu, Jerman kan butuh the real number 9, ya seperti Niclas Fullkrug,” pungkasnya.



Source link

Join The Discussion

Compare listings

Compare
WeCreativez WhatsApp Support
Coba tanyakan disini
👋Halo, apa yang bisa kami bantu